Tuesday, December 12, 2006
TEOREMA ASAL-MULA ALAM
Informasi dari wilayah keagamaan menunjukkan bahwa umur bumi telah sangat renta. Islam misalnya melalui kisah isra mi’raj Nabi diberitakan bahwa bumi diibaratkan sebagai nenek tua yang berpakaian cantik-molek. Menyambut 100 tahun Relativitas Einstein sekaligus menyongsong tahun fisika yang jatuh pada warsa 2005, adalah Departemen Fisika ITB (Senin, 30 Agustus 2004) menyelenggarakan ceramah umum, Umur alam semesta yang akan dibawakan oleh fisikawan Prof. Pantur Silaban PhD; seperti ditulis oleh wartawan kompas 19 Agustus 2004, beliau dikenal sebagai pemegang otoritas paling kompeten mengenai karya-karya agung fisikawan Albert Einstein (1875-1955) apa yang menarik dari ceramah tersebut, paling tidak adalah materi fisika yang njelimet akan dibawakan dengan bahasa yang mudah dimengerti awam, belum terbukti memang, termasuk penulis sendiri. Menurutnya kiamat yang betul-betul akan meluluhlantakkan bumi masih sangatlah lama. Dengan sedikit canda bagi para pebisnis masih bisa menanamkan modalnya karena waktunya masih ribuan tahun terjadi.
Stephen Hawking, dalam Tuhan tidak bermain dadu karya Keith Ward cenderung untuk meniadakan kekuatan pencipta yaitu Tuhan. Alam semesta menurut Stephen Hawking ada dengan sendirinya dan terus berkembang hingga saat ini dan menyatakan bahwa alam (Univers) akan langgeng tanpa sedikitpun memberikan ruang univers ini bagi Tuhan, tidak ada ruang bagi Tuhan imbuhnya. Perkembangan alam tidak ubahnya seperti kelahiran dan kematian, alam raya akan mengalami kematian untuk kemudian lahir kembali dengan sistemnya yang baru. Alam raya memiliki cara tersendiri dalam kehancuran dan kelahirannya, kehancuran disini dapat diartikan bahwa keseimbangan alamiah pada suatu saat terganggu sehingga –hancur- pada suatu waktu akan menghasilkan keseimbangan yang baru. Teori Big-Bang (dentuman besar) terjadi alamiah saja sebagai evolusi jagat raya menuju keseimbangan, dan terciptanya kehidupan termasuk di Bumi. Kesimbangan ini dapat diilustrasikan seperti tumpukan pasir yang mengatur diri setelah berada pada ketinggian tertentu, jika kita menuangkan tambahan tepat pada puncak gundukannya maka pasir-pasir yang menumpuk diatas akan bergeser secara teratur sehingga menghasilkan tumpukan yang makin melandai, kondisi kerucut tidak semakin runcing, demikian menurut fisikawan Indonesia Yohanes Surya.
Ilmuwana Islam lain lagi, mereka mempunyai ide yang dapat dikategorikan mengimani kekutan bernama Tuhan. Dalam filsafat ada dua teorema yang akan penulis uraikan. Pertama aliran Isyraqi dengan tokoh utamanya Shihab al-Din al-Suhrawardi, dengan ulasan menarik dari penerusnya Sadr al-Din Syirazi (Mulla Sadra), seluruh ‘ada’ yang tercipta ini adalah hasil limpahan (ilmuniation). Yang membedakan keberadaan sesuatu adalah gradasi dari pancaran tersebut. Wilayah yang lebih tinggi tentu memiliki dimensi yang lebih kompleks namun lebih sederhana. Alam mawjud yang dialamai manusia terkungkung oleh tiga dimensi yaitu panjang, lebar dan tinggi. Aliran kedua adalah aliran yang lebih awal, diteorikan oleh al-Farabi, menurut ahli filsafat aliran ini dipengaruhi oleh faham Platonis, dengan teorinya yaitu pelimpahan (al-fayd), penggerak awal dengan eksistensinya kemudian memunculkan alam-alam lainnya, kemudian termanifestasikan hingga alam manusia dengan kosmologinya. Alam akan ada sejauah penggerak yang awal itu ada, keabadian (Platonis) alam kemudian direduksi bahwa Tuhan dengan konsepnya mengenai hari kesudahan (kiamat) tentu telah menciptakan alam yang dikenal dengan alam akhirat. Sedang teori Isyraqi mengenai kesudahan alam yaitu dengan menghilangkan gradasi yang tentunya amat sangat mudah, semudah kita mengarsir gambar tebal-tipis, dengan demikian alam akhirat tentu mudah saja ada. Danah Zohar, yang dikenal dengan Spirtual Quotiennya (SQ) meyakini bahwa religiusitas akan membawa kearah Tuhan, meyakini adanya Tuhan berarti kita (makhluk) akan musnah. Bagaimana tidak spiritualitas amat sangat kencang menarik manusia. Tarikannya ini adalah berupa kehebatan dari ciptaan Tuhan. Diantaranya adalah keteraturan alam yang ada, semua saling melengkapi. Kehilangan salah satu dari makhluk apapun itu, maka akan membuat goyah susunan alam secara keseluruhan. Analoginya bahwa makhluk apapun (yang nampak dan tidak tanpak) seperti satu tubuh yang utuh mungkin anda ingat ikatan atom, jika ada yang sakit (menyimpang secara fisik dan perilaku) maka yang lainnya akan merasakannya pula. Hari akhir adalah sebuah keniscayaan, kehancuran akan berturut-turut seperti efek domino, seluruh alam entah dimana akan musnah. Kejadian dari hari kesudahan tersebut tiadalah yang mengetahui kecuali sang pencipta, begitu menurut keyakinan Islam. Wallahu a’lam bis sawab
Stephen Hawking, dalam Tuhan tidak bermain dadu karya Keith Ward cenderung untuk meniadakan kekuatan pencipta yaitu Tuhan. Alam semesta menurut Stephen Hawking ada dengan sendirinya dan terus berkembang hingga saat ini dan menyatakan bahwa alam (Univers) akan langgeng tanpa sedikitpun memberikan ruang univers ini bagi Tuhan, tidak ada ruang bagi Tuhan imbuhnya. Perkembangan alam tidak ubahnya seperti kelahiran dan kematian, alam raya akan mengalami kematian untuk kemudian lahir kembali dengan sistemnya yang baru. Alam raya memiliki cara tersendiri dalam kehancuran dan kelahirannya, kehancuran disini dapat diartikan bahwa keseimbangan alamiah pada suatu saat terganggu sehingga –hancur- pada suatu waktu akan menghasilkan keseimbangan yang baru. Teori Big-Bang (dentuman besar) terjadi alamiah saja sebagai evolusi jagat raya menuju keseimbangan, dan terciptanya kehidupan termasuk di Bumi. Kesimbangan ini dapat diilustrasikan seperti tumpukan pasir yang mengatur diri setelah berada pada ketinggian tertentu, jika kita menuangkan tambahan tepat pada puncak gundukannya maka pasir-pasir yang menumpuk diatas akan bergeser secara teratur sehingga menghasilkan tumpukan yang makin melandai, kondisi kerucut tidak semakin runcing, demikian menurut fisikawan Indonesia Yohanes Surya.
Ilmuwana Islam lain lagi, mereka mempunyai ide yang dapat dikategorikan mengimani kekutan bernama Tuhan. Dalam filsafat ada dua teorema yang akan penulis uraikan. Pertama aliran Isyraqi dengan tokoh utamanya Shihab al-Din al-Suhrawardi, dengan ulasan menarik dari penerusnya Sadr al-Din Syirazi (Mulla Sadra), seluruh ‘ada’ yang tercipta ini adalah hasil limpahan (ilmuniation). Yang membedakan keberadaan sesuatu adalah gradasi dari pancaran tersebut. Wilayah yang lebih tinggi tentu memiliki dimensi yang lebih kompleks namun lebih sederhana. Alam mawjud yang dialamai manusia terkungkung oleh tiga dimensi yaitu panjang, lebar dan tinggi. Aliran kedua adalah aliran yang lebih awal, diteorikan oleh al-Farabi, menurut ahli filsafat aliran ini dipengaruhi oleh faham Platonis, dengan teorinya yaitu pelimpahan (al-fayd), penggerak awal dengan eksistensinya kemudian memunculkan alam-alam lainnya, kemudian termanifestasikan hingga alam manusia dengan kosmologinya. Alam akan ada sejauah penggerak yang awal itu ada, keabadian (Platonis) alam kemudian direduksi bahwa Tuhan dengan konsepnya mengenai hari kesudahan (kiamat) tentu telah menciptakan alam yang dikenal dengan alam akhirat. Sedang teori Isyraqi mengenai kesudahan alam yaitu dengan menghilangkan gradasi yang tentunya amat sangat mudah, semudah kita mengarsir gambar tebal-tipis, dengan demikian alam akhirat tentu mudah saja ada. Danah Zohar, yang dikenal dengan Spirtual Quotiennya (SQ) meyakini bahwa religiusitas akan membawa kearah Tuhan, meyakini adanya Tuhan berarti kita (makhluk) akan musnah. Bagaimana tidak spiritualitas amat sangat kencang menarik manusia. Tarikannya ini adalah berupa kehebatan dari ciptaan Tuhan. Diantaranya adalah keteraturan alam yang ada, semua saling melengkapi. Kehilangan salah satu dari makhluk apapun itu, maka akan membuat goyah susunan alam secara keseluruhan. Analoginya bahwa makhluk apapun (yang nampak dan tidak tanpak) seperti satu tubuh yang utuh mungkin anda ingat ikatan atom, jika ada yang sakit (menyimpang secara fisik dan perilaku) maka yang lainnya akan merasakannya pula. Hari akhir adalah sebuah keniscayaan, kehancuran akan berturut-turut seperti efek domino, seluruh alam entah dimana akan musnah. Kejadian dari hari kesudahan tersebut tiadalah yang mengetahui kecuali sang pencipta, begitu menurut keyakinan Islam. Wallahu a’lam bis sawab